Pasar Minyak · 27 Agustus 2026
Harga minyak dunia kembali melemah pada Kamis (27/8/2026), memperpanjang penurunan selama beberapa hari terakhir. Pasar mulai melihat peluang membaiknya akses pelayaran di Selat Hormuz setelah Iran dan Oman melanjutkan pembicaraan mengenai koridor navigasi di jalur energi penting tersebut.
| Brent | US$87/barel | ▼ 0,7% · 4 hari |
| WTI | US$82/barel | ▼ 0,7% · 5 hari |
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,7% ke US$82 per barel dan telah turun selama lima sesi beruntun.

Harapan Pembukaan Hormuz Tekan Harga Minyak
Salah satu faktor utama yang menekan harga minyak adalah meningkatnya harapan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali normal. Iran dan Oman disebut tengah menyelesaikan detail kesepakatan terkait pengelolaan jalur tersebut. Sebelumnya, kedua negara mengumumkan pembahasan mengenai koridor navigasi sementara serta rencana bersama untuk membersihkan ranjau laut.
Jika kesepakatan berhasil dicapai, pasar akan mendapatkan sinyal bahwa risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk mulai berkurang.
"Minyak mentah sedikit melemah karena prospek pembukaan kembali Selat Hormuz membaik di tengah perundingan yang sedang berlangsung." — Daniel Hynes, Senior Commodity Strategist, ANZ
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya aman. Arus kapal yang melewati Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal.
| Rata-rata lalu lintas kapal (10 hari sebelumnya) | ~15 kapal/hari |
| Lalu lintas kapal — Selasa (Data Kpler) | 5 kapal |
Iran dan AS Masih Berbeda Posisi
Perundingan Iran-Oman juga berlangsung di tengah ketidakpastian hubungan Tehran dan Washington. Iran menyatakan Amerika Serikat menjadi salah satu penghambat kesepakatan terkait Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengatakan jalur tersebut akan tetap tertutup apabila AS tidak menerima persyaratan Tehran.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan Selat Hormuz pada dasarnya sudah berfungsi dan kapal-kapal masih dapat melintas. Washington juga memilih meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengumumkan rencana sanksi sekunder yang dapat menyasar pihak-pihak yang membantu perdagangan Iran.
Meski demikian, AS sejauh ini belum memberlakukan sanksi besar terhadap sejumlah negara dan perusahaan yang memiliki hubungan dagang dengan Tehran.
Apa Artinya bagi Trader?
Pergerakan minyak saat ini sangat sensitif terhadap berita diplomasi Iran dan kondisi Selat Hormuz.
|
Jika negosiasi berhasil • Risiko gangguan pasokan turun • Arus pengiriman energi meningkat • Harga minyak berpeluang tertekan lebih lanjut |
Jika negosiasi gagal • Risiko pasokan kembali meningkat • Harga minyak berpotensi rebound • Inflasi global bisa kembali tertekan |
Dengan Brent yang kini berada di bawah US$90 per barel, pasar tampaknya mulai memberikan bobot lebih besar pada kemungkinan meredanya gangguan pasokan. Namun, penurunan harga minyak belum berarti risiko geopolitik telah hilang.
Bagi trader, berita diplomasi dari Iran, perkembangan Selat Hormuz, serta kebijakan AS terhadap Tehran menjadi katalis penting yang perlu dipantau karena dapat memicu pergerakan tajam pada harga minyak dalam waktu singkat.
Peringatan: Pendapat yang disampaikan sepenuhnya merupakan milik penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi Followme. Followme tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi yang disediakan, serta tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang diambil berdasarkan konten ini, kecuali dinyatakan secara tertulis.


- AKHIR -