🇬🇧 EKONOMI INGGRIS · PDB Q2 2026

Ekonomi Inggris ternyata masih menunjukkan performa yang cukup kuat. Produk domestik bruto (PDB) Inggris tumbuh 0,4% pada kuartal II 2026, setelah sebelumnya mencatat pertumbuhan 0,6% pada kuartal pertama.
Pertumbuhan PDB Inggris (QoQ)
Kuartal I 2026
0,6%
Kuartal II 2026
0,4%
✓ Lebih baik dari ekspektasi pasar
Hasil ini bahkan lebih baik dari ekspektasi dan membuat Inggris berpeluang kembali menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di antara negara-negara G7 untuk kuartal kedua berturut-turut.
Namun, ada satu masalah besar yang mulai membayangi prospek tersebut: perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz.
Investasi Bisnis Justru Melonjak
Bukan hanya konsumsi yang membantu ekonomi Inggris.
Investasi Bisnis, Kuartal II
▲ 1,7%
Ekonom sebelumnya memperkirakan penurunan 0,5%
Ekonom Deutsche Bank Sanjay Raja bahkan mengatakan pertumbuhan ekonomi Inggris pada paruh pertama 2026 jika disetahunkan mencapai sekitar 2%.
Artinya, pemulihan ekonomi Inggris mulai terlihat lebih sehat karena tidak hanya bergantung pada belanja pemerintah. Aktivitas sektor swasta juga mulai menunjukkan tanda-tanda membaik, didukung meningkatnya kepercayaan bisnis dan konsumsi masyarakat.
Tapi Harga Energi Bisa Menjadi "Rem" Ekonomi
Masalahnya muncul dari sisi biaya. Inggris cukup bergantung pada impor minyak dan gas. Ketika konflik Iran mengganggu distribusi energi dan membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, harga energi berisiko naik lebih tinggi.
Bagi masyarakat Inggris, dampaknya bisa langsung terasa melalui harga bensin, biaya transportasi, listrik, dan berbagai barang serta jasa. Jika biaya hidup kembali naik, daya beli rumah tangga bisa tertekan. Pada akhirnya, masyarakat mungkin mengurangi pengeluaran dan perusahaan juga bisa menahan investasi.
Jadi, ekonomi Inggris saat ini menghadapi situasi yang cukup unik: Pertumbuhan sedang membaik, tetapi inflasi berpotensi kembali naik.
Bahkan Ada Skenario Pertumbuhan Hampir Mandek
Risikonya bukan sekadar perlambatan ringan. Menurut laporan Bloomberg yang dikutip CNBC, pejabat Treasury Inggris telah memaparkan skenario terburuk kepada Perdana Menteri Andy Burnham.
⚠️ Skenario Terburuk Treasury Inggris
Pertumbuhan Melambat ke 0,3%
Tahun depan, jika gangguan Selat Hormuz berlangsung lama
Angka tersebut menunjukkan betapa besar dampak yang bisa ditimbulkan oleh gangguan energi terhadap ekonomi Inggris. International Monetary Fund (IMF) sebelumnya juga memperingatkan bahwa konflik Iran dapat memberikan pukulan lebih besar terhadap pertumbuhan Inggris dibandingkan negara-negara kaya lainnya.
Inggris Bisa Menghadapi Dilema Bank Sentral
Dampak perang juga penting untuk diperhatikan dari sisi Bank of England (BoE).
Jika harga energi naik, inflasi bisa kembali meningkat. Secara teori, kondisi tersebut dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Namun, jika harga energi yang tinggi akhirnya menekan konsumsi dan investasi hingga pertumbuhan ekonomi melemah, BoE justru bisa menghadapi tekanan untuk memberikan stimulus melalui kebijakan moneter yang lebih longgar.
Inilah yang membuat perkembangan di Timur Tengah menjadi sangat penting bagi pasar Inggris. Inflasi tinggi + pertumbuhan melemah adalah kombinasi yang sulit ditangani bank sentral.
Semester Kedua 2026 Jadi Ujian Sebenarnya
Data kuartal II memang memberikan kabar positif, tetapi ekonom memperingatkan agar tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa pemulihan Inggris sudah aman. Pertumbuhan juga masih sangat terkonsentrasi pada sektor jasa. Sementara itu, sektor konstruksi dan produksi industri justru masih berada di bawah level tahun sebelumnya.
Dengan kata lain, ekonomi Inggris memang sedang tumbuh, tetapi fondasinya belum sepenuhnya kuat.
Jika konflik Iran segera mereda dan jalur energi kembali normal, Inggris masih memiliki peluang mempertahankan momentum pertumbuhannya. Sebaliknya, jika gangguan Selat Hormuz berlanjut, harga energi bisa menjadi penghambat utama pemulihan Inggris pada paruh kedua 2026 hingga tahun depan.
📌 Apa Artinya bagi Trader Forex?
Perkembangan ini layak diperhatikan karena perubahan prospek pertumbuhan dan inflasi Inggris dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga BoE, imbal hasil obligasi Inggris, serta arah GBP/USD.
Peringatan: Pendapat yang disampaikan sepenuhnya merupakan milik penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi Followme. Followme tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi yang disediakan, serta tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang diambil berdasarkan konten ini, kecuali dinyatakan secara tertulis.

- AKHIR -