
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7) pagi dan diperdagangkan di level Rp18.087 per dolar AS, turun sekitar 78 poin atau 0,43% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang juga berada di bawah tekanan terhadap dolar AS. Yuan China, peso Filipina, dolar Singapura, yen Jepang, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia sama-sama melemah, sementara hanya dolar Hong Kong yang mencatat penguatan tipis.
Di pasar mata uang utama dunia, euro, poundsterling Inggris, dolar Australia, dan dolar Kanada justru menguat terhadap dolar AS. Sementara itu, franc Swiss menjadi satu-satunya mata uang utama yang bergerak melemah.
Analis DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen negatif pasar setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Ketidakpastian mengenai kepemimpinan bank sentral dinilai membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset domestik.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga masih mencermati pergerakan dolar AS dan perkembangan ekonomi global yang memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang.
Meski demikian, Bank Indonesia telah menunjuk Destry Damayanti sebagai Penjabat Gubernur Sementara untuk memastikan seluruh kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan tetap berjalan normal selama proses penunjukan gubernur definitif berlangsung.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS, dengan perhatian investor masih tertuju pada perkembangan kepemimpinan Bank Indonesia serta arah pergerakan dolar AS di pasar global.
Peringatan: Pendapat yang disampaikan sepenuhnya merupakan milik penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi Followme. Followme tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi yang disediakan, serta tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang diambil berdasarkan konten ini, kecuali dinyatakan secara tertulis.
