
Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan awal pekan dan turun mendekati US$4.000 per troy ounce dalam sesi Asia, Senin. Logam mulia ini masih bergerak di sekitar level psikologis tersebut setelah mencatat penurunan sekitar 14% pada kuartal II 2026, yang menjadi kinerja kuartalan terburuk sejak 2013.
Tekanan terhadap emas berasal dari meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) Amerika Serikat sebelumnya menunjukkan tanda-tanda perlambatan, pasar masih khawatir lonjakan harga minyak dapat kembali mendorong inflasi. Kondisi ini membuat prospek penurunan suku bunga semakin kecil dan mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 61,4% peluang The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Ekspektasi tersebut turut menopang dolar AS dan menjadi salah satu faktor yang membebani harga emas.
Di sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah terus meningkat. Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran sebagai respons atas meningkatnya konflik. Pemerintah AS menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai balasan atas jatuhnya korban dari pihak militer Amerika.
Sementara itu, pejabat Iran menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Washington pada dasarnya sudah tidak lagi berlaku. Situasi ini meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi global, terutama setelah muncul ancaman terhadap jalur pelayaran strategis di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan juga meluas ketika Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone yang menargetkan sejumlah lokasi di Bahrain, Yordania, Kuwait, dan Irak. Eskalasi konflik tersebut membuat pasar semakin waspada terhadap potensi krisis energi yang lebih besar.
Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, arah harga minyak, serta ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Selama tekanan inflasi dan peluang kenaikan suku bunga tetap tinggi, harga emas berpotensi masih bergerak di bawah tekanan.
Peringatan: Pendapat yang disampaikan sepenuhnya merupakan milik penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi Followme. Followme tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi yang disediakan, serta tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang diambil berdasarkan konten ini, kecuali dinyatakan secara tertulis.

- AKHIR -