Inflasi Amerika Serikat kembali menunjukkan kenaikan pada Mei dan semakin memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Data yang dirilis Bureau of Economic Analysis (BEA) kemarin malam (25 Jun) menunjukkan Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE), indikator inflasi favorit The Fed, naik 3,4% pada Mei dari 3,3% pada April. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan menjadi level tertinggi sejak Oktober 2023.
Sementara itu, inflasi PCE utama (headline PCE) meningkat menjadi 4,1% YoY, naik dari 3,8% pada bulan sebelumnya. Ini merupakan pertama kalinya inflasi PCE kembali menembus level 4% sejak April 2023.
Secara bulanan, ini tingkat kenaikan PCE:
Mengapa Data PCE Sangat Penting?
Berbeda dengan CPI yang lebih sering menjadi sorotan media, PCE merupakan indikator inflasi yang paling diperhatikan oleh The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Data PCE mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat secara lebih luas, dan dianggap mampu memberikan gambaran inflasi yang lebih akurat dibandingkan CPI.
Ketika inflasi PCE tetap tinggi, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkan suku bunga akan semakin besar.
Kenaikan Inflasi Dipicu Harga Energi
Lonjakan inflasi Mei sebagian besar dipengaruhi oleh kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Laporan Reuters menunjukkan harga energi melonjak sekitar 6,5% selama Mei, sementara biaya transportasi, layanan keuangan, asuransi, dan layanan kesehatan juga mengalami kenaikan. Meski harga minyak dunia kini mulai turun setelah Selat Hormuz kembali dibuka, dampak kenaikan energi pada Mei masih tercermin dalam data inflasi bulan tersebut.
Beberapa ekonom memperkirakan inflasi utama kemungkinan sudah mencapai puncaknya karena harga minyak telah kembali mendekati level sebelum konflik. Namun, inflasi inti diperkirakan masih akan tetap tinggi karena tekanan harga di sektor jasa belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Belanja Konsumen Masih Sangat Kuat
Di tengah inflasi yang tinggi, konsumen Amerika justru tetap aktif berbelanja.
Data menunjukkan:
• Personal Spending naik 0,7% pada Mei, lebih tinggi dari perkiraan pasar.
• Personal Income juga meningkat 0,7%, jauh di atas ekspektasi sebesar 0,4%.
• Tingkat tabungan masyarakat berada di sekitar 3%, mendekati level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat meskipun biaya hidup terus meningkat.
Selain itu, revisi terbaru Produk Domestik Bruto (PDB) AS menunjukkan ekonomi tumbuh 2,1% (annualized) pada kuartal pertama, lebih tinggi dibanding estimasi sebelumnya sebesar 1,6%.
Peluang Kenaikan Suku Bunga September Naik
Data inflasi yang masih tinggi membuat pasar kembali memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di kisaran 63% - 65%, meskipun sedikit lebih rendah dibanding sebelum data dirilis.
Ekonom BMO Capital Markets, Scott Anderson, menilai inflasi masih terlalu tinggi sehingga The Fed kemungkinan akan tetap mempertahankan sikap hawkish. Menurutnya, meskipun harga energi mulai turun, inflasi sektor jasa diperkirakan masih akan bertahan tinggi sehingga perjuangan The Fed untuk mengembalikan inflasi ke target 2% belum selesai.
Bagaimana Reaksi Pasar?
Setelah data dirilis:
• Indeks Dolar AS (DXY) sempat melemah tipis ke sekitar 101,5 meskipun masih bertahan di area positif
• Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bergerak turun
• Kontrak berjangka saham Wall Street tetap menguat karena investor menilai ekonomi AS masih cukup solid
Di sisi lain, harga emas (XAU/USD) melanjutkan pelemahannya dan diperdagangkan di angka US$3.995, walaupun sempat naik ke US$4.020. Tekanan terhadap emas muncul karena meningkatnya peluang kenaikan suku bunga membuat imbal hasil aset berbunga menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga (non-yielding asset).

Dampak yang Perlu Diperhatikan Trader
Beberapa implikasi penting dari data PCE kali ini antara lain:
• Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap tinggi.
• Dolar AS berpotensi tetap kuat selama inflasi belum menunjukkan penurunan yang signifikan.
• Emas berisiko mengalami tekanan apabila pasar semakin yakin The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.
• Pasangan mata uang mayor berpotensi mengalami volatilitas tinggi menjelang pertemuan FOMC berikutnya.
• Data inflasi berikutnya akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah kenaikan suku bunga benar-benar akan terjadi pada September.
Kesimpulan
Peringatan: Pendapat yang disampaikan sepenuhnya merupakan milik penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi Followme. Followme tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi yang disediakan, serta tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang diambil berdasarkan konten ini, kecuali dinyatakan secara tertulis.

- AKHIR -