
Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Selasa (24/2) pagi. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp16.835 per dolar AS, melemah 33 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di zona merah. Yen Jepang turun 0,20 persen, baht Thailand melemah 0,16 persen, yuan China terkoreksi 0,01 persen, dan peso Filipina turun 0,25 persen. Sementara itu, won Korea Selatan justru menguat tipis 0,06 persen.
Dolar Singapura juga tercatat melemah 0,07 persen, sedangkan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen pada perdagangan pagi ini.
Tekanan juga terjadi pada mata uang utama negara maju. Euro Eropa melemah 0,03 persen, poundsterling Inggris turun 0,02 persen, dan franc Swiss terkoreksi 0,10 persen. Dolar Australia melemah 0,01 persen dan dolar Kanada turun 0,09 persen.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS setelah sejumlah data ekonomi dan manufaktur Amerika Serikat menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan. Selain itu, sentimen pasar turut dipengaruhi ancaman kebijakan tarif baru dari Presiden AS Donald Trump sebesar 15 persen.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang rebound setelah data menunjukkan aktivitas ekonomi dan manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan. Ancaman tarif baru Trump 15 persen juga ikut membebani rupiah,” ujarnya.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS, dengan sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan penggerak pasar.
Peringatan: Pendapat yang disampaikan sepenuhnya merupakan milik penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi Followme. Followme tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi yang disediakan, serta tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang diambil berdasarkan konten ini, kecuali dinyatakan secara tertulis.

- AKHIR -