
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Amerika Serikat menjadi kontributor terbesar surplus neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2025.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, menyebut surplus perdagangan RI-AS mencapai US$12,2 miliar, naik dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar US$9,16 miliar.
Surplus terbesar tercatat pada:
- Mesin dan perlengkapan (HS 85): US$3,07 miliar
- Pakaian rajut (HS 61): US$1,86 miliar
- Alas kaki (HS 64): US$1,82 miliar
Namun, Indonesia masih mencatat defisit untuk beberapa komoditas, seperti:
- Biji/buah mengandung minyak (HS 12): defisit US$0,06 miliar
- Bahan bakar mineral (HS 27): defisit US$0,33 miliar
- Ampas dan industri makanan (HS 23): defisit US$0,23 miliar
Selain AS, Indonesia juga mencatat surplus dengan India (US$9,43 miliar) dan Filipina (US$5,85 miliar).
Sebaliknya, defisit terbesar datang dari Singapura (US$13,55 miliar), China (US$13,09 miliar), dan Australia (US$3,49 miliar).
Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 kembali surplus sebesar US$5,49 miliar, melanjutkan tren positif selama 64 bulan berturut-turut. Nilai ekspor tercatat US$24,96 miliar, sementara impor sebesar US$19,47 miliar.
Peringatan: Pendapat yang disampaikan sepenuhnya merupakan milik penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi Followme. Followme tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi yang disediakan, serta tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang diambil berdasarkan konten ini, kecuali dinyatakan secara tertulis.

Tinggalkan pesan Anda sekarang